Saturday, February 17, 2018

Resolution.


My lecturer closed my last lecture this week by saying,

...Entrepreneurs in running companies should benefit investor, clients, partners, employees, and themselves....

Perlu diingat, themselves-nya di belakang, ya.


Jadi kalau entrepreneur itu, harus bisa bikin kaya semuanya, memperkaya dirinya terakhir, karena dengan memperbaiki lingkungannya, entrepreneur bisa dapet benefitnya juga.

....

It's February already, but it's never too late for a new year post.

I've never been a fan of 'new years' resolution, but I made it every year. Tidak benar-benar menuliskan segalanya di secarik kertas beraksara indah, besar-besar, berwarna menarik, dan terpajang rapi di dinding kamar. But I kept those 'plans' in mind, just to find out how long it would stay there, lol.

And here is a selfish me dan sudah lupa resolusi memperbaiki diri. Inginnnya semua senang, semua bahagia, tapi inginnya saya yang senang dulu hehe.
Tapi ini mandatory post tahun baru, harusnya penuh dengan senang-senangnya harapan tahun baru, kan? And actually, the idea that you have to wait 365 days to improvise yourself is just ridiculous. You can choose to set goals anytime you want. Jadi, minggu depan saya ingin ikut kelas aerobik, menerima tawaran-tawaran baru, produce more smiles, dan gak batu-batu amat kalau ada yang kasih nasihat.

Selamat Tahun Baru 2018.
Semoga selalu bahagia.
Salam sayang dari hati yang paling kiri.

Sunday, October 15, 2017

Kopi(2)

Not mine.

Kedai kopi di kotaku lebih ramai dari hiruk pikuk pasar di hari Minggu.
Manusia-manusia itu meneguk kopi-kopinya dengan bangga. Berharap minuman itu membuat mereka lebih tegar dari seekor kuda terakhir di landasan pacu.

Untukmu, aku beri tahu satu hal.
Kopi-kopi itu penuh tipu.
Segelas, secangkir minuman itu hanya berisi kefanaan yang dibeli dengan uang lima puluh ribu. Seolah menjadi pembenaran dari apa yang mereka cari--ada yang lebih pahit dari kisah cintanya yang abu-abu.

Saturday, September 30, 2017

Kopi.

Not mine.


Ajaib: Saya rindu Bogor.

Setelah satu bulan saya tidak pulang ke Bogor awal semester ini, ternyata akhirnya saya rindu juga. Padahal semester-semester lalu tidak pernah jadi masalah. Tiba-tiba rindu menjejakkan kaki di stasiun yang ramainya serupa pasar di Minggu pagi. Mungkin karena semester pendek lalu saya sukses pulang-pergi Depok-Bogor, jadi rindu. 

Adalah sebuah cafe tengah kota, di pinggir Kebun Raya. Sebuah rak buku besar di dinding sebelah kiri, menyimpan berbagai koleksi buku yang bisa dibaca oleh pengunjungnya. Dua orang di samping saya sedang belajar bahasa Korea. Di belakang saya sedang bercengkrama, lama tidak berjumpa, sambil tertawa-tawa. Meja saya penuh kertas dan dua laptop terbuka menyala bersama dua gelas setengah kosong yang berkata-kata dan berkeringat.

Adalah sebuah cafe lain di sebelah Utara. Jarum pendek menunjuk angka tua. Hari itu sudah hampir larut tapi ada deadline yang harus diselesaikan. Di lantai bawah, sepasang kekasih berhadapan. Dua gelas kopi berdiam diri di mejanya, menonton asyik mereka bercerita. Di lantai atas, sekelompok wanita sedang menyiapkan hadiah ulang tahun salah satu temannya. Dekorasi merah muda dan kue telah disiapkan baik-baik. Di lain meja, seorang barista berbincang dengan kawannya mengenai bisnis kedai kopi. Saya duduk menghadap tangga, dengan laptop di meja, satu porsi kentang goreng, dan dua gelas minuman yang asik berbincang sendiri.

Malam ini cukup berbeda. Setelah rindu-rindu itu datang, ternyata Bogor benar-benar mempengaruhi saya. Saya tidak lama merasakan udara lembab Bogor yang menjadi penyebab penyakit-penyakit bronkitis itu. Tapi, saya sudah jatuh cinta. 

Malam ini, saya duduk di depan meja dengan laptop terbuka dan sekotak susu uht hampir habis. 
Satu kotak. 
Bukan dua.