Tuesday, January 22, 2019

Preferensi.

The place is really nice. It has seasonal tea on the menu so I definitely will come back later.

Tak pernah menyalahkan penikmat senja,
membencinya,
menghujatnya.
Tak masalah
bagaimana caranya memandang senja;
dari jendela rumah,
puncak bukit,
atap gedung pencakar langit,
ataupun sebuah kedai berlantai satu
dengan jendela-jendela besar.

Tak pernah membenci pecinta kopi,
memusuhinya,
mengharamkan hal yang disukainya.
Tak masalah
bagaimana caranya menikmati kopi;
berdua,
sendirian bersama setumpuk laporan,
bersama sebuah buku kesukaan,
di sebuah kedai ternama,
ataupun warung kopi pinggir rel kereta.

Tapi aku membencimu,
sungguh membencimu,
karena memandangnya,
dari balik buku kesukaanmu,
di kedai tempat kita bertemu.


Pagi ini mendung.
Dari aku yang menulis kopi tapi bukan penikmat kopi.

Sunday, January 13, 2019

Thick and Thin.

We all are in the middle of January already, but it feels weird if there is no new year post so here it is, it's never too late.

Sadness.

The saddest part of this year was knowing that your friend needed you and you were not there. All you wish is turn the time back to heal the pains but it's a waste of time. All you wanted to do was trying to help but you knew band-aid doesn't fix bullet holes.

Happiness.

The happiest part of this year was knowing that you are surrounded by those kind people. You have those people who help you when you are at worsts and smile at you bests. It's actually all the medicines you are in need.

Get rid of bad ideas.

I got slapped in the second half of the year, so hard. But thank God, I'm alive. And afterfinally, I got some–those time to think for myself, I realized. If you ever thought the problem was about bad people around you, you're wrong. It was all about you from the first time. The way you look at people, the way you look at the problem, the way you think the problem in your mind, maybe you are in the wrong perspective so all you have to do is seeing with fresh eyes.


After all the smiles and tears, I'd love to thank you for everything that I've got last year.  Hard time was bad, but I feel relieved to finally can write this with a clear mind.
And for people around me, your existence in my life happens for a reason. Even though we don't know what it is, I'd like to say thank you.

All my love,
Nay.

Sunday, July 15, 2018

Talk, Road, and Votes.

This is late, but I participated in an election for the first time about two weeks ago. Ternyata menyenangkan sekali memilih pemimpin dengan suara sendiri. Since I currently at my grandma's, so I got home early in the morning.
I had to take the public transportation. Considering everybody wanted to use their voice, jalanan cukup kosong dan sulit mencari kendaraan yang mau saya naiki, but luckily I found one.
Hanya ada tiga orang di dalam kendaraan itu; saya, seorang mbak-mbak duduk di depan, dan bapak supir.

Bapak supir tersebut langsung bertanya kepada saya begitu saya duduk,
"Gak nyoblos, Neng?"
"Ini saya mau nyoblos, Pak, makanya pulang dulu."

Kemudian bapaknya nanya ke mbak-mbak yang duduk di sampingnya.
"Kalo nengnya, gak nyoblos?"
"Oh, saya udah, Pak. Kan udah dikasih duit, masa gak nyoblos?"

Dang.

Baru pertama kali dengar langsung tentang main uang ini dari orang yang mengalaminya. Selama ini saya kira cuma sekadar kisah legend yang datangnya setiap pemilihan. Ternyata sungguhan ada dan masih ada.

Kemudian percakapan antara mbak-mbak dan bapak supir berlanjut. Saya diam saja menyimak. I guess I was not in the mood to join that conversation, walopun biasanya hati ini sangat bergejolak untuk jbjb hehe. But no, hari itu saya memutuskan untuk mendengarkan saja.

"...iya ini, Neng. Saya mah jalan aja, kasian penumpang yang mau naik barang satu dua orang juga kalo gak ada kendaraan yang lewat kan kasian. Nengnya mau kemana?

"Iya ini saya mau ke tempat kerja, kan mau resign"

Dalam hati saya, "Ooo, mbaknya sudah kerja dan mau resign."

"... dulu saya lama kerja di laut, Neng."
"Oh iya, Pak? Katanya kalau yang kerja di laut gitu, kalau ada yang mati langsung dibuang ke laut, Pak?"
"Iya. Kan lama, Neng, kalo di laut mah bisa tiga bulan, empat bulan. Kalo dibiarin mah keburu bau."

Saya di belakang mangut-mangut mendengarkan.

Percakapan masih berlanjut membahas mengenai Australia, Bahasa Jepang, dan lainnya, hingga ada pengendara motor yang mendekat dan membunyikan klakson. Kemudian kendaraan perlahan merapat ke kiri jalan. Motor tersebut juga berhenti di depan kendaraan, kemudian pengendaranya turun memberikan sebuah bungkusan dan beberapa lembar uang.

"Itu siapa, Pak?"

"Biasa itu yang suka nitipin jualan. Kasian gak ada yang ngangkut berarti dari tadi. Atuh gak ada yang jalan kayanya."

Ternyata pengendara tersebut biasa menitipkan jualannya kepada kendaraan umum tersebut untuk di antarkan ke tujuan akhirnya.

Kendaraan mulai melaju kembali dan percakapan berlanjut.

Tak lama saya mulai mengantuk karena pagi itu saya harus bangun pagi agar bisa sampai lebih cepat di rumah. Kemudian, saya pun tertidur sambil didongengi oleh percakapan kedua orang tersebut. Long story short, saya pun berhasil sampai rumah untuk menggunakan hak suara saya. Dan sorenya saya harus kembali ke rumah nenek, karena esoknya sudah harus kembali beraktivitas.

Yang saya tahu, hari itu terasa lebih lama dari biasanya.
Seandainya setiap hari bahagia terasa seperti itu untuk dinikmati.


We need to listen more, to hear more stories and live in it.
Malam piala dunia, Juli 2018.