Showing posts with label Aku. Show all posts
Showing posts with label Aku. Show all posts

Sunday, May 25, 2014

Celahmu.


Laki-laki itu berdecak dalam ruang sempit.  Ruangan itu cukup terang dengan sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah-celah hatinya. Sekotak makanan dengan anggun duduk diam di dekatnya, terabaikan, hampir basi.

Kemudian dia menggertak.

Hancurkan saja!
Jangan!
Ambil saja!
Jangan!
Sudahi saja!

Konflik batin dan pikirannya begitu mengganggu.  Laki-laki itu lantas menggigit bibir, mungkin tanda sewaktu-waktu dia bisa meledak.  Keinginannya untuk pergi dari tempat itu muncul, tetapi sekelebat datang pikiran tentang seseorang, yang malah menahannya untuk tetap tinggal.

"Aku tidak pergi."

Kemudian dia duduk terdiam, hingga jarum panjang itu melewati angka 5 beberapa kali.  Mungkin sedikit kecewa atas keputusannya untuk tinggal, sisa kecewanya dia limpahkan kepada seseorang itu.  Dan dia tertidur.

Dalam tidurnya dia bermimpi, seseorang lain menariknya ke awan. Sejuk, sangat sejuk. Lalu ruangan itu menjadi gelap, bukan karena matahari yang berhenti bersinar.  Tapi karena sesuatu telah menambal celah-celah hatinya.  Kemudian laki-laki itu bangun dari tidurnya, menendang sekotak makanan yang kini basi, dan pergi.

25 Mei 2014.

Saturday, May 17, 2014

Aku tahu kamu.


Ada kalanya kamu tersadar akan suatu hal yang harusnya merubahmu.  Tapi jika bumi masih diporosnya, merubah hal tersebut akan seribu kali lipat lebih sulit dari yang seharusnya.  Ada kalanya kamu sibuk mencari hal yang sebenarnya tidak penting. Bodoh, kalau saja matamu lebih besar atau ku tempelkan saja satu milikku padamu, karena kepentingan itu ada di sampingmu, dekat, lebih dekat dari tiap helai benang bajumu. Atau aku yang bodoh dan salah mengerti?

Ada kalanya juga, saat kita berdua saling mencari.  Kamu dan aku harusnya bertemu, tapi keegoisan hati membawa kita ke jalan yang tak seharusnya.  Haruskah aku berhenti dan berharap kamu semakin dekat? Atau haruskah aku tetap mencari dan menunggu hingga kamu terlalu lelah untuk menyudahi?

Aku tahu kamu, tapi perasaan tahu itu semakin lama semakin pudar.  Mungkinkah Tuhan ingin mengatakan bahwa kita berlari semakin jauh? Atau kamu yang berlari menjauh ketika aku bersimpuh?

Aku tahu kamu, tapi tidak kita.
Mungkin sebenarnya lariku hanya ilusi, karena akhirnya aku sadar, kamu memang tak pernah singgah dan berhenti.

Untukmu yang buat Hari Minggu terasa lebih indah.