Showing posts with label Literature. Show all posts
Showing posts with label Literature. Show all posts

Thursday, December 10, 2015

Sampai.

aku sudah sampai
tapi apalah arti tambat tali tanpa awak
di pelabuhan sebagus mereka bilang
semewah tampaknya di impian

hujan membawa angin. percepat malam.
aku kini diam
melihat para penjaga rantai ternyata batu
para penjaga intan ternyata pasir

indah tiada lagi. sendiri.
marah menyentak hening mimpi

ini lebih berharga
daripada seorang pria
hanya bisa busung dada
tapi bagaimanapun jiwa tertinggal, aku sudah sampai.


September 2013. Untuk mereka yang lebih tinggi dari pencakar langit.
Bertengger di draft sejak 2 tahun lalu.

Sunday, May 25, 2014

Celahmu.


Laki-laki itu berdecak dalam ruang sempit.  Ruangan itu cukup terang dengan sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah-celah hatinya. Sekotak makanan dengan anggun duduk diam di dekatnya, terabaikan, hampir basi.

Kemudian dia menggertak.

Hancurkan saja!
Jangan!
Ambil saja!
Jangan!
Sudahi saja!

Konflik batin dan pikirannya begitu mengganggu.  Laki-laki itu lantas menggigit bibir, mungkin tanda sewaktu-waktu dia bisa meledak.  Keinginannya untuk pergi dari tempat itu muncul, tetapi sekelebat datang pikiran tentang seseorang, yang malah menahannya untuk tetap tinggal.

"Aku tidak pergi."

Kemudian dia duduk terdiam, hingga jarum panjang itu melewati angka 5 beberapa kali.  Mungkin sedikit kecewa atas keputusannya untuk tinggal, sisa kecewanya dia limpahkan kepada seseorang itu.  Dan dia tertidur.

Dalam tidurnya dia bermimpi, seseorang lain menariknya ke awan. Sejuk, sangat sejuk. Lalu ruangan itu menjadi gelap, bukan karena matahari yang berhenti bersinar.  Tapi karena sesuatu telah menambal celah-celah hatinya.  Kemudian laki-laki itu bangun dari tidurnya, menendang sekotak makanan yang kini basi, dan pergi.

25 Mei 2014.

Saturday, May 17, 2014

Aku tahu kamu.


Ada kalanya kamu tersadar akan suatu hal yang harusnya merubahmu.  Tapi jika bumi masih diporosnya, merubah hal tersebut akan seribu kali lipat lebih sulit dari yang seharusnya.  Ada kalanya kamu sibuk mencari hal yang sebenarnya tidak penting. Bodoh, kalau saja matamu lebih besar atau ku tempelkan saja satu milikku padamu, karena kepentingan itu ada di sampingmu, dekat, lebih dekat dari tiap helai benang bajumu. Atau aku yang bodoh dan salah mengerti?

Ada kalanya juga, saat kita berdua saling mencari.  Kamu dan aku harusnya bertemu, tapi keegoisan hati membawa kita ke jalan yang tak seharusnya.  Haruskah aku berhenti dan berharap kamu semakin dekat? Atau haruskah aku tetap mencari dan menunggu hingga kamu terlalu lelah untuk menyudahi?

Aku tahu kamu, tapi perasaan tahu itu semakin lama semakin pudar.  Mungkinkah Tuhan ingin mengatakan bahwa kita berlari semakin jauh? Atau kamu yang berlari menjauh ketika aku bersimpuh?

Aku tahu kamu, tapi tidak kita.
Mungkin sebenarnya lariku hanya ilusi, karena akhirnya aku sadar, kamu memang tak pernah singgah dan berhenti.

Untukmu yang buat Hari Minggu terasa lebih indah.

Friday, January 10, 2014

Toleransi.


Lima belas tahun dibesarkan oleh toleransi, saya akhirnya terpaksa untuk sadar bahwa dunia ini tidak bisa digenggam hanya dengan bermodal toleransi.  Toleransi yang diikuti dengan rasa tanggung jawab tidak cukup untuk meluluhkan beberapa orang yang menganggap toleransi adalah bentuk lain ketidaktegasan.  Bukan ketidaktegasan, Pak, Bu, tapi memahami kondisi orang lain yang sedang dalam keterbatasan untuk melakukan sesuatu hal.  Toleransi ada bukan untuk dicap sebagai hal jelek, tetapi untuk dilakukan bagi mereka yang masih punya hati nurani.  Bukan memaksakan harus toleransi, Pak, Bu, tapi setidaknya toleransi itu ada, dan meskipun toleransi saja tidak cukup, tapi kita semua butuh.  Mengingat kita sesama manusia, sesama makhluk Tuhan, berusaha untuk saling toleransi dan menghargai, tapi juga bertanggung jawab kepada sesama dan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Apalagi dengan pembiasaan sejak dini, ditanamkan pada mereka yang banyak meniru, daripada harus menonton pria berjoget dengan gerakan yang sama selama 7 bulan itu.  Maka, Pak, Bu, tidak perlu nada tinggi dan naik darah, kerut di wajah juga bisa hilang, dengan mengembalikan toleransi pada tempatnya.

Saturday, January 4, 2014

Kepadamu.



Kepadamu patahan angin yang berhembus sepotong-sepotong.  Bersamamu ku titipkan kisah yang tak tampak.

Tapi biarkan ia bersiap dulu, karena setiap cermin akan memantulkan gambar yang sama, karena setiap rusuk akan lindungi yang sama, karena setiap napas akan bahagiakan yang sama.

Dan setiap harapan akan terus diwujudkan, walau terhalang tanda tanya. Tapi bersama koma, hingga titik yang terakhir.

Friday, October 4, 2013

Catatan Sakit Kepala.



Untuk Bulan Oktober yang akan menjadi berbeda dari sebelumnya.

Apa kabar, teman? Bukan inginmu aku datang memang.  Tapi tatkala hujan menghentikanmu dan logaritma merasukimu, boleh aku titipkan sebuah catatan kepadamu?
Aku akan tinggal sedikit lebih lama, tapi tak selama mereka menunggu atau kau mengais rindu. Sebenarnya aku hanya meragukan dia yang dulu datang menggantikan baterai rusak yang kau simpan.  Bahkan sakit kepala datang lebih lama dari senyumnya yang terkembang di pagi hari.

Sebuah kabar tak baik jadi hiasan pintu.  Bukan inginku, bukan inginmu.  Dan di sela-sela kontemplasi dunia yang heningnya sampai tulang, aku masih bisa selipkan do'a untuk yang baik kepada yang baik.  Karena aku hidup setidaknya untuk satu alasan, walaupun hidup seolah tak henti-hentinya berkoar tentang kebahagiaan.

Diawali sebuah niat, yang baik bisa jadi baik, yang baik bisa jadi buruk.  Argumen demi argumen terpental ke udara dan terserap oleh ozon.  Ini bukan inginku, teman.  Kau terlalu bahagia untuk bersedih lebih awal dari puncak-puncak harapan yang lewati tapakan panjang.

Dan sebelum semburat merah nyalakan lampu hentikan waktu, maafkan aku, teman. Dia hanya sebagianku yang harusnya tak pernah ku bawa di awal perjalanan.

Friday, June 7, 2013

Apapun.

Katanya yang mirip itu jodoh. Omong kosong, apa gunanya anak umur 14 tahun ngomongin jodoh?
Rasanya juga kayak dipukul pake palu.
Mirip pun engga.
Tapi pasti ada harap-harap sedikit.
Biar bisa.
Biar senang.
Biar bahagia.
Tapi kalaupun engga, namanya juga takdir Tuhan.
Karena bahagianya kita belum tentu bahagia orang lain. Tapi jangan asik mikirin bahagianya orang lain, kita juga perlu bahagia.
Bahagia yang ditunggu-tunggu.
Walaupun awalnya mimpi buruk, lama-lama juga jadi mimpi indah.
Sekali-sekali ngomongin cinta juga gak apa-apa, asal bisa liat batesnya, karena rambu di jalan bukan hiasan.
Karena cinta ada buat dirasa.
Karena hati ada buat merasa.

Monday, May 20, 2013

Mereka Bilang.


Mereka bilang cinta itu ada
Mereka bilang cinta itu pasti
Mereka bilang cinta itu indah
Mereka bilang cinta itu rumit
Mereka bilang cinta itu sulit
Mereka bilang cinta bukan gurauan

Mereka bilang cintamu bukan asli
Mereka bilang cintamu cuma ilusi
Tapi mereka bilang cintaku asli
Mereka bilang cintaku tak terbatas
Lalu biarkan cintaku membawamu ke atas
Atau melayarkanmu ke samudera luas.

Thursday, May 16, 2013

Seberapa

Silakan kau tanya padaku
Seberapa peduli aku pada cahaya
Yang terselip di antara ribuan cara
Seberapa berharga untukku deretan kata
Yang kau tahu bermakna
Seberapa indah bagiku, cinta
Yang tumbuh di antara dua
Seberapa penting untukku ucapanmu
Dan kau janjikan padaku
Musim semi yang tak terbatas
Maka ku janjikan padamu
Dua musim gugur.

Saturday, April 6, 2013

Ku Harap Begitu.

Terlalu kejam untuk tidak ku ceritakan apa yang terjadi.
Aku berharap tidak terlalu jatuh saat kau melihatnya mendatangimu.
Bukan cokelat panas, bukan kopi panas, bukan teh hangat, hanya segelas air putih, yang ku harap akan membuatku merasa lebih baik dengan semua keajaiban yang dimilikinya.

Angka-angka di tanggalan itu memandangku dengan tatapan penuh dendam.  Terasa seperti tidak menghargai diriku sendiri, tak pantas juga.  Tapi apa yang seharusnya ku lakukan saat semua hal bertentangan dengan pemikiranku, yang sejujurnya tak pernah menguntungkan akhirnya?  Tampar aku 5 kali jika kau bicara tentang konsekuensi.  Bolehkah aku menunggu hingga konsekuensi lenyap di saat dunia berlari bersamamu?

Mematung di saat dunia berkontemplasi. Ini ilusif dan cukup sudah untukku.

Pikiranku karut-marut sudah setelah semuanya ku anggap akhirnya.  Bagai sebuah intermeso di tengah-tengah pertunjukan murahan sambil mendengarkan pria tua bercerita tentang analogi-analogi tak jelas, lalu berkicau tentang cuaca hari ini.  Omong kosong, aku bahkan tak paham.

Entah apalagi yang harus aku lakukan.  Rasanya ada sesuatu yang mengganjal melihat sekelilingmu, bahkan jam terkena aritmia jantung dan cermin diabetes, ku pikir. Ya, mungkin harus ku biasakan diriku dengan semua hal, hingga waktunya untuk berubah, semuanya. Tapi segalanya terasa mudah untuk diucapkan, ku rasa aku benar.

Sejujurnya, terlalu lelah untuk mengatakan aku lelah dengan semua ini.  Aku lelah, lalu apa?  Hal-hal semacam itu tak kan pergi bersamamu dengan mudah seperti mengedipkan mata.
Tapi ku harap semuanya, aku, kau, jam, tanggalan, dan dunia, menjadi lebih baik begitu hari ini usai, ku harap begitu. 

Saturday, February 23, 2013

Aku Tahu

Ini sudah malam
dan aku melihatmu
duduk diam dengan buku terbuka di hadapanmu
harus, tapi pikiranmu melambung jauh tak menentu
aku tahu ini sulit
aku tahu kau tak suka
aku tahu, gadis kecil, aku tahu

beban dan penat ini sudah terlalu mencekik
aku juga tahu
membunuh atau dibunuh
menyerang atau diserang
karena di sinilah kita ada, gadis kecil
aku tahu ini sulit
aku tahu kau tak suka
aku tahu, gadis kecil, aku tahu

tapi ada apa denganmu malam ini, gadis kecil?
adakah hal yang salah terjadi padamu hari ini?
kulihat kau menangis tadi
ini bukan mimpi, gadis kecil
hadapilah sekuat hati
walau aku tahu ini sulit
aku tahu kau tak suka
aku tahu, gadis kecil, aku tahu

hidup adalah hidup, gadis kecil
aku dan kau
kita sama ku pikir
nanti apabila mentari terbit kembali
tersenyumlah
dan biarkan aku tahu itu.

Monday, February 11, 2013

Malam Ini

Sudah semakin sepi. Entahlah, apakah malam sudah terlalu bosan ku temani terus setiap hari? Dengan cahaya layar yang semakin lama terangnya menusuk-nusuk mata, dengan sebuah buku terbuka tanpa dibaca, serta napas jam dinding yang berbincang dengan tembok-tembok berwarna muda.

Segelas cokelat panas dengan sedikit asap mengepul ku teguk, lidah ku tebakar, biasa. Ku lirik jam yang kini berbisik malu-malu, mungkin ia ingin katakan sesuatu, ini sudah terlalu larut.

Tak seharusnya aku menunggu selarut ini, memang tak seharusnya, tapi apakah salah untuk menjadi lebih sabar dari biasanya? Menjadi lebih baik dari biasanya? Mungkin itu maksudnya.

Ku telusuri layar telepon genggam dari sudut ke sudut, tak ada apapun. Sudahlah, memang sudah seharusnya dibiarkan seperti itu. Sementara emosi memuncak dan ku matikan benda itu, akan ku biarkan membusuk seperti apa yang dimintanya.

Merasa benar untuk mencoba tersenyum, malah pikiranku kacau. Amarah tidak berguna, kau tahu? Dan aku lebih memilih untuk meneguk seduhanku yang terakhir itu, sambil berharap ini tidak akan terulang lagi.

Ku tulis beberapa bait puisi dalam putihnya kertas dan hitamnya tinta, berharap akulah orang yang menemukan kata-kata itu, ku harap begitu. Ku pejamkan mata sekejap dan aku hampa, tapi dalam pikiranku, semuanya berlarian tak karuan yang kemudian membentuk seonggok benang kusut yang semakin lama semakin besar.

Kau tahu?
Ini yang terakhir dan akan segera berakhir. Tapi sebelum semua itu terjadi, maafkan aku. Kemudian biarkan ku tersenyum untuk melambaikan tangan. Malam ini berakhir, aku selesai.